Mendigitalkan Digital (1)

Perlunya Digitalisasi Manajemen Printshop

Perkembangan Digital Printing

Dunia Percetakan di Indonesia pada umumnya dikuasai oleh Percetakan offset dan screen printing atau sablon. Kedua Jenis cetak pada kebutuhan cetak yang masif bisa terhitung sangat Bagus dan efisien. Namun pada cetakan yang memerlukan kuantiti sedikit biayanya dapat terhitung mahal.

Dewasa ini, konsumen cenderung Lebih senang dengan benda-benda yang terbilang unik. Orang-orang lebih suka mempunyai benda yang berbeda satu dengan lainya. Sebagai contoh adalah personalisasi pada casing handphone. Orang lebih senang casing handphone mereka bergambar karakter kartun yang diidolakan ataupun motif-motif lucu yang membuat gemas. Tentu saja hal tersebut sangat subjektif dan personal dimana sangat sulit Untuk diakomodir oleh cetak offset maupun cetak sablon. Kalaupun mau, biayanya akan melambung.

Untuk menyiasati pasar yang lebih Kecil dan personal maka munculah teknologi cetak baru, yakni cetak digital atau yang biasa disebut dengan digital print. Pada teknologi digital print, proses Untuk melakukan cetak tidaklah rumit. Hasil olah file digital akan dapat langsung diproses oleh printer. Contoh sederhananya adalah printer desktop yang ada di rumah dan dikantor-kantor yang sering kita jumpai.

 

Cara Baru Menciptakan Produk Cetak

 

  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn

Kemudahan dan proses yang singkat dalam digital print adalah sebuah terobosan baru dalam membuat produk cetak. Kemampuan nya dalam menghasilkan produk cetak tanpa minimum kuota — yang berarti dapat mencetak satuan, seperti yang sudah disinggung diatas sulit Untuk diwujudkan dengan metode cetak lain yang memerlukan proses yang lebih panjang yang berdampak pada harga satuan produk akan melabung tinggi. Semakin sedikit produk yang dicetak, semakin mahal harga per satuan nya.

Mencetak Tanpa batasan jumlah inilah yang membawa metode-metode bisnis baru menjadi lebih personal. Sebut saja usaha penerbitan buku, sebelumnya penulis yang ingin menerbitkan buku harus melalui Penerbit/publisher dapat menerbitkan tulisan-tulisan mereka dalam bentuk buku. Keuntungan yang didapat dengan model bagi hasil atau biasa disebut royalti. Tiap buku yang terjual, penulis akan mendapatkan royalti. Model bisnis seperti ini tidak lain Karena biaya untuk mencetak dan menerbitkan buku sangat besar. Sekarang penulis dapat langsung memproduksi buku dan langsung mengirimkan kepada pembeli. Tidak perlu mencetak dalam jumlah besar, karena dengan dengan teknologi digital mencetak satu ataupun seribu biaya yang dikeluarkan akan tetap sama. Contoh lain nya adalah mencetak casing handphone yang telah kita bahas sebelumnya, dengan teknologi digital akan sangat memungkinkan untuk mencetak gambar yang berbeda-beda antara satu dengan lainya (custom production) tanpa harus memikirkan produksi secara masal.

 

Alur Kerja Digital Printing

  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn

Kemudahan dan fleksibilitas yang di tawarkan dalam metode cetak digital print tentu menjanjikan sebuah peluang usaha baru. Pasar retail dan custom yang dulunya sulit dijangkau oleh cetak offset dan sablon, kini bisa dipenuhi dengan mudah oleh digital print. Tentu saja pasar-pasar yang dulunya bisa dikerjakan oleh cetak offset dan sablon bisa juga di kerjakan menggunakan digital print.

Kemudian, bagaimana memulai menjalankan usaha digital print ini. Secara garis besar, Untuk mulai menjalankan bisnis digital print dibagi menjadi 3 bagian, yakni lokasi/workshop, SDM, dan printer itu sendiri. Untuk workshop sendiri dibutuhkan Ruang yang lumayan luas, guna meletakkan printer/mesin cetak digital (yang secara ukuran dapat dibilang cukup besar), front office, dan back office. Pada umumnya tempat yang dipilih untuk workshop digital print adalah ruko 2 lantai atau 3 lantai.

Sedikit pembahan detail mengenai SDM, dimana SDM pada bisnis digital printing ini dibagi ke 4 bagian utama — atau lebih disesuaikan dengan keperluan Workshop sendiri. Bagian-bagian itu antara lain manager, kasir / customer services, operator printer, desainer grafis. Manager bertugas sebagai penanggung jawab umum berjalan nya usaha digital print dimana manager ini membawahi kasir/customer service, operator mesin, dan desainer grafis.

Posisi kasir/ customer service sendiri dapat dipisah atau digabung, tergantung dari kebutuhan printshop. Selayaknya pada posisi kasir dan/ customer service ini memiliki pengetahuan yang cukup mengenai layanan apa saja yang ditawarkan oleh printshop, sehingga ketika ada customer yang ingin berkonsultasi dapat memberikan solusi yang tepat.

Dalam beberapa kasus, customer service juga merangkap sebagai desainer grafis. Hal ini dikarenakan beberapa customer yang datang ingin berkonsultasi tidak hanya cetak tetapi juga desain. Umumnya customer ini tidak membawa file desain yang akan dicetak. Posisi desainer grafis disini tidak hanya membantu membuat desain namun juga memberikan masukan-masukan solusi apa yang tepat Untuk produk cetak.

Yang terakhir adalah operator printer. Operator printer bertugas Untuk mencetak file yang diterima dari desainer grafis. Operator cetak ini dapat dibagi menjadi 2 bagian, yakni operator printer itu sendiri dan bagian finishing. Contoh kasus yang melibatkan 2 bagian ini adalah mencetak banner yang akan digantung dengan tali. Operator printer akan mencetak file yang Sudah didapat dari desainer grafis, setelah selesai dicetak maka Untuk membuat lubang tali diperlukan proses pemasangan mata ayam. Proses pemasangan mata ayam inilah yang di kerjakan oleh bagian finishing. Contoh lainya adalah ketikan membuat kartu nama dengan laminasi. Setelah kartunama dicetak dan hendak melakukan laminasi, maka proses ini Masuk tahap finishing.

Singkatnya, alur kerja dalam digital print adalah sebagai berikut. Customer datang ke printshop menuju customer service untuk berkonsultasi. Jika customer telah membawa file siap cetak dapat langsung di cetak dan dikerjakan oleh operator printer, namun jika customer belum mempunyai file desain dapat menuju desainer grafis untuk membantu membuatkan desain sesuai dengan kebutuhan si customer. Begitu desain Sudah jadi dan mendapat persetujuan dari customer, maka desain bisa dikerjakan oleh operator printer. Jika file Sudah dicetak — dan telah melalu proses finishing jika diperlukan — maka produk cetak bisa di kembalikan ke kasir, lalu customer melakukan pembayaran.

 

Permasalahan Umum Yang Sering Muncul

  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn

Jika kita melihat dari alur kerja diatas, maka dapat disimpukan bahwa bisnis digital print ini relatif mudah. Namun dalam praktek nya banyak sekali terjadi permasalahan-permasalahan mendasar. Diantaranya adalah hilangnya SPK, memperoduksi cetakan tanpa melalui proses Administrasi yang seharusnya, permasalahan pergudangan juga kerap kali muncul, serta penggunaan printer Untuk keperluan pribadi.

Terselip atau hilang nya SPK kerap kali terjadi saat printshop Sedang ramai-ramainya. SPK yang ditulis manual berpotensi hilang saat pemindahaan alur kerja. Misal saat SPK diberikan dari customer service ke operator printer. Karena banyak nya pekerjaan yang harus diselesaikan, SPK yang ditulis manual di atas kertas akan berpotensi hilang atau terselip. Tentu hal ini menghambat proses produksi Karena operator printer tidak Tahu apa yang harus dilakukan dengan file-file yang diterima.

Permasalahan lainya adalah memperoduksi cetakan tanpa melalui mekanisme yang seharusnya. Customer langsung berhubungan dengan operator printer dan melakukan proses produksi. Tidak ada catatan yang lengkap pekerjaan apa saja yang dilakukan dalam satu hari. Kasus semacam ini sering muncul ketika operator printer menerima pekerjaan cetak secara pribadi, ataupun karyawan printshop membuat cetakan untuk keperluan sendiri.

Pengawasan terhadap gudang juga kerap kali dilalaikan. Pengawasan stock raw material seperti kertas, sticker, bahan laminasi dan sebagainya Sulit di dikontrol. Penggunaan stock secara pribadi juga kerap kali terjadi, ataupun perhitungan kertas yang dibuang karena gagal cetak. Pengawasan terhadap gudang juga menjadi penting untuk memastikan ketersediaan stock yang cukup saat load pekerjaan tinggi dan kapan harus memesan ulang kepada vendor kembali.

 

 

Berlanjut ke, Mendigitalkan Digital (2)

agto

Leave a Reply